Sabtu, Mei 01, 2010

Allah Menguji Dengan Empat Nyawa

0 komentar
Hidup ini memang ujian. Seperti apa pun warna hidup yang Allah berikan kepada seorang hamba, tak luput dari yang namanya ujian. Bersabarkah sang hamba, atau menjadi kufur dan durhaka.

Dari sudut pandang teori, semua orang yang beriman mengakui itu. Sangat memahami bahwa susah dan senang itu sebagai ujian. Tapi, bagaimana jika ujian itu berwujud dalam kehidupan nyata. Mampukah?

Hal itulah yang pernah dialami Bu Khairiyah. Semua diawali pada tahun 1992.

Waktu itu, Allah mempertemukan jodoh Khairiyah dengan seorang pemuda yang belum ia kenal. Perjodohan itu berlangsung melalui sang kakak yang prihatin dengan adiknya yang belum juga menikah. Padahal usianya sudah nyaris tiga puluh tahun.

Bagi Khairiyah, pernikahan merupakan pintu ibadah yang di dalamnya begitu banyak amal ibadah yang bisa ia raih. Karena itulah, ia tidak mau mengawali pintu itu dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah.

Ia sengaja memilih pinangan melalui sang kakak karena dengan cara belum mengenal calon itu bisa lebih menjaga keikhlasan untuk memasuki jenjang pernikahan. Dan berlangsunglah pernikahan yang tidak dihadiri ibu dan ayah Khairiyah. Karena, keduanya memang sudah lama dipanggil Allah ketika Khairiyah masih sangat belia.

Hari-hari berumah tangga pun dilalui Khairiyah dengan penuh bahagia. Walau sang suami hanya seorang sopir di sebuah perusahaan pariwisata, ia merasa cukup dengan yang ada.

Keberkahan di rumah tangga Khairiyah pun mulai tampak. Tanpa ada jeda lagi, Khairiyah langsung hamil. Ia dan sang suami pun begitu bahagia. "Nggak lama lagi, kita punya momongan, Bang!" ujarnya kepada sang suami.

Mulailah hari-hari ngidam yang merepotkan pasangan baru ini. Tapi buat Khairiyah, semuanya berlalu begitu menyenangkan.

Dan, yang ditunggu pun datang. Bayi pertama Bu Khairiyah lahir. Ada kebahagiaan, tapi ada juga kekhawatiran.

Mungkin, inilah kekhawatiran pertama untuk pasangan ini. Dari sinilah, ujian berat itu mulai bergulir.

Dokter menyatakan bahwa bayi pertama Bu Khairiyah prematur. Sang bayi lahir di usia kandungan enam bulan. Ia bernama Dina.

Walau dokter mengizinkan Dina pulang bersama ibunya, tapi harus terus berobat jalan. Dan tentu saja, urusan biaya menjadi tak terelakkan untuk seorang suami Bu Khairiyah yang hanya sopir.

Setidaknya, dua kali sepekan Bu Khairiyah dan suami mondar-mandir ke dokter untuk periksa Dina. Kadang karena kesibukan suami, Bu Khairiyah mengantar Dina sendirian.

Beberapa bulan kemudian, Allah memberikan kabar gembira kepada Bu Khairiyah. Ia hamil untuk anak yang kedua.

Bagi Bu Khairiyah, harapan akan hiburan dari anak kedua mulai berbunga. Biarlah anak pertama yang menjadi ujian, anak kedua akan menjadi pelipur lara. Begitulah kira-kira angan-angan Bu Khairiyah dan suami.

Dengan izin Allah, anak kedua Bu Khairiyah lahir dengan selamat. Bayi itu pun mempunyai nama Nisa. Lahir di saat sang kakak baru berusia satu tahun. Dan lahir, saat sang kakak masih tetap tergolek layaknya pasien berpenyakit dalam. Tidak bisa bicara dan merespon. Bahkan, merangkak dan duduk pun belum mampu. Suatu ketidaklaziman untuk usia bayi satu tahun.

Beberapa minggu berlalu setelah letih dan repotnya Bu Khairiyah menghadapi kelahiran. Allah memberikan tambahan ujian kedua buat Bu Khairiyah dan suami. Anak keduanya, Nisa, mengalami penyakit aneh yang belum terdeteksi ilmu kedokteran. Sering panas dan kejang, kemudian normal seperti tidak terjadi apa-apa. Begitu seterusnya.

Hingga di usia enam bulan pun, Nisa belum menunjukkan perkembangan normal layaknya seorang bayi. Ia mirip kakaknya yang tetap saja tergolek di pembaringan. Jadilah Bu Khairiyah dan suami kembali mondar-mandir ke dokter dengan dua anak sekaligus.

Di usia enam bulan Nisa, Allah memberikan kabar gembira untuk yang ketiga kalinya buat Bu Khairiyah dan suami. Ternyata, Bu Khairiyah hamil.

Belum lagi anak keduanya genap satu tahun, anak ketiga Bu Khairiyah lahir. Saat itu, harapan kedatangan sang pelipur lara kembali muncul. Dan anak ketiganya itu bayi laki-laki. Namanya, Fahri.

Mulailah hari-hari sangat merepotkan dilakoni Bu Khairiyah. Bayangkan, dua anaknya belum terlihat tanda-tanda kesembuhan, bayi ketiga pun ikut menyita perhatian sang ibu.

Tapi, kerepotan itu masih terus tertutupi oleh harapan Bu Khairiyah dengan hadirnya penghibur Fahri yang mulai berusia satu bulan.

Sayangnya, Allah berkehendak lain. Apa yang diangankan Bu Khairiyah sama sekali tidak cocok dengan apa yang Allah inginkan. Fahri, menghidap penyakit yang mirip kakak-kakaknya. Ia seperti menderita kelumpuhan.

Jadilah, tiga bayi yang tidak berdaya menutup seluruh celah waktu dan biaya Bu Khairiyah dan suami. Hampir semua barang berharga ia jual untuk berobat. Mulai dokter, tukang urut, herbal, dan lain-lain. Tetap saja, perubahan belum nampak di anak-anak Bu Khairiyah.

Justru, perubahan muncul pada suami tercinta. Karena sering kerja lembur dan kurang istirahat, suami Bu Khairiyah tiba-tiba sakit berat. Perutnya buncit, dan hampir seluruh kulitnya berwarna kuning.

Hanya sekitar sepuluh jam dalam perawatan rumah sakit, sang suami meninggal dunia. September tahun 2001 itu, menjadi titik baru perjalanan Bu Khairiyah dengan cobaan baru yang lebih kompleks dari sebelumnya. Dan, tinggallah sang ibu menghadapi rumitnya kehidupan bersama tiga balita yang sakit, tetap tergolek, dan belum memperlihatkan tanda-tanda kesembuhan.

Tiga bulan setelah kematian suami, Allah menguji Bu Khairiyah dengan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Fahri, si bungsu, ikut pergi untuk selamanya.

Kadang Bu Khairiyah tercenung dengan apa yang ia lalui. Ada sesuatu yang hampir tak pernah luput dari hidupnya, air mata.

Selama sembilan tahun mengarungi rumah tangga, air mata seperti tak pernah berhenti menitik di kedua kelopak mata ibu yang lulusan 'aliyah ini. Semakin banyak sanak kerabat berkunjung dengan maksud menyudahi tetesan air mata itu, kian banyak air matanya mengalir. Zikir dan istighfar terus terucap bersamaan tetesan air mata itu.

Bu Khairiyah berusaha untuk berdiri sendiri tanpa menanti belas kasihan tetangga dan sanak kerabat. Di sela-sela kesibukan mengurus dua anaknya yang masih tetap tergolek, ia berdagang makanan. Ada nasi uduk, pisang goreng, bakwan, dan lain-lain.

Pada bulan Juni 2002, Allah kembali memberikan cobaan yang mungkin menjadi klimaks dari cobaan-cobaan sebelumnya.

Pada tanggal 5 Juni 2002, Allah memanggil Nisa untuk meninggalkan dunia buat selamanya. Bu Khairiyah menangis. Keluarga besar pun berduka. Mereka mengurus dan mengantar Nisa pergi untuk selamanya.

Entah kenapa, hampir tak satu pun sanak keluarga Bu Khairiyah yang ingin kembali ke rumah masing-masing. Mereka seperti ingin menemani Khairiyah untuk hal lain yang belum mereka ketahui.

Benar saja, dua hari setelah kematian Nisa, Nida pun menyusul. Padahal, tenda dan bangku untuk sanak kerabat yang datang di kematian Nisa belum lagi dirapikan.

Inilah puncak dari ujian Allah yang dialami Bu Khairiyah sejak pernikahannya.

Satu per satu, orang-orang yang sebelumnya tak ada dalam hidupnya, pergi untuk selamanya. Orang-orang yang begitu ia cintai. Dan akhirnya menjadi orang-orang yang harus ia lupai.

Kalau hanya sekadar air mata yang ia perlihatkan, nilai cintanya kepada orang-orang yang pernah bersamanya seperti tak punya nilai apa-apa.

Hanya ada satu sikap yang ingin ia perlihatkan agar semuanya bisa bernilai tinggi. Yaitu, sabar. "Insya Allah, semua itu menjadi tabungan saya buat tiket ke surga," ucap Bu Khairiyah kepada Eramuslim. (mnh)

(Seperti dituturkan Bu Khairiyah, warga Setiabudi Jakarta, kepada Eramuslim)
READ MORE - Allah Menguji Dengan Empat Nyawa

Keluarga Lumpuh

0 komentar
Bayangkan kalau semua anak Anda menderita lumpuh. Tentu, Anda akan sangat bingung dengan masa depan mereka. Di Purwakarta, ada seorang ibu yang bukan hanya empat anaknya yang lumpuh. Melainkan juga, suami yang menjadi tulang punggung keluarga. Allahu Akbar.

Hal itulah yang kini dialami seorang ibu usia 70 tahun. Namanya Atikah. Di rumahnya yang sederhana, ia dan keluarga lebih banyak berbaring daripada beraktivitas layaknya keluarga besar.

Mak Atikah bersyukur bisa menikah dengan seorang suami yang alhamdulillah baik dan rajin. Walau hanya sebagai pencari rumput, Mak Atikah begitu menghargai pekerjaan yang dilakoni suaminya. Bahkan, tidak jarang, ia membantu sang suami ikut mencari rumput.

Beberapa bulan setelah menikah, tepatnya di tahun 1957, Allah mengaruniai Mak Atikah dengan seorang putera. Ia dan suami begitu bahagia. Ia kasih nama sang putera tercinta dengan nama Entang.

Awalnya, Entang tumbuh normal. Biasa-biasa saja layaknya anak-anak lain. Baru terasa beda ketika anak sulung itu berusia 10 tahun.

Waktu itu, Entang sakit panas. Bagi Mak Atikah dan suami, anak sakit panas sudah menjadi hal biasa. Apalagi tinggal di daerah pedesaan yang jauh dari pelayanan medis. Entang pun dibiarkan sakit panas tanpa obat.

Panas yang diderita sang anak ternyata kian hebat. Tiba-tiba, Entang merasakan kalau kakinya tidak bisa digerakkan. Setelah dicoba beberapa kali, kaki Entang memang benar-benar lumpuh.

Musibah ini ternyata tidak berhenti hanya di si sulung. Tiga adik Entang pun punya gejala sakit yang sama dengan sang kakak. Dan semuanya sakit di usia SD atau kira-kira antara 7 sampai 10 tahun. Satu per satu, anak-anak Mak Atikah menderita lumpuh.

Usut punya usut, ternyata anak-anak yang tinggal di Desa Cileunca, Kecamatan Bojong, Purwakarta itu sebagian besar terserang penyakit polio. Tapi, semuanya sudah serba terlambat. Lagi pula, apa yang bisa dilakukan Mak Atikah dengan suami yang hanya seorang pencari rumput.

Sejak itu, Mak Atikah mengurus empat anaknya sekaligus seorang diri. Dengan sarana hidup yang begitu sederhana, bahkan sangat kekurangan, keluarga ini mengarungi hidup puluhan tahun dengan kesibukan anak-anak yang lumpuh.

Ujian Allah buat Mak Atikah ternyata tidak berhenti sampai di situ. Di tahun 90-an, giliran suami Bu Atikah yang mengalami musibah. Saat mencari rumput, Pak Didin terjatuh. Orang-orang sekitar pun menggotong Pak Didin pulang. Dan sejak itu, Pak Didin tidak bisa lagi menggerakkan kaki dan tangannya. Ia cuma bisa berbaring.

Lalu, bagaimana dengan pemasukan keluarga kalau sang suami tidak lagi bisa berkerja. Bu Atikah pun tidak mau diam. Kalau selama ini ia hanya bisa mengurus anak-anak di rumah, sejak itu, ibu yang waktu itu berusia hampir enam puluh tahun pun menggantikan sang suami dengan pekerjaan yang sama. Di usianya yang begitu lanjut, Bu Atikah mengais rezeki dengan mencari rumput.

Sehari-hari, ia berangkat pagi menuju tanah-tanah kosong yang dipenuhi rumput. Ia kumpulkan rumput-rumput itu dengan sebilah arit, kemudian dibawa ke pemesan. Tidak sampai sepuluh ribu rupiah ia kumpulkan per hari dari mencari rumput. Dan itu, ia gunakan untuk mengepulkan asap dapur rumahnya. Hanya sekadar menyambung hidup.

Di bulan Mei tahun ini, sang suami yang hanya bisa berbaring dipanggil Allah untuk selamanya. Kini, tinggal Mak Atikah yang mengurus keempat anaknya yang tidak juga sembuh dari lumpuh.
Allah menguji hambaNya dengan sesuatu yang mungkin sulit untuk dicerna pikiran orang lain. Subhanallah. (saad/mnh)
READ MORE - Keluarga Lumpuh

Buah

0 komentar
Segerombolan murid-murid sekolah dasar berjalan menapaki tepian parit di persawahan dan ladang nan luas. Mereka mengikuti langkah guru mereka yang sesekali menunjuki mana jenis pohon yang mungkin belum mereka ketahui.

“Anak-anakku, inilah pepohonan yang mungkin sering kamu sebut, tapi baru kali ini kamu jumpai,” ujar sang guru ketika mereka berhenti di tanah kosong di sebuah ladang. “Di sini ada pohon cabai, tomat, terung, mentimun, pepaya, jagung,” tambah sang guru sambil menunjuk ke ladang-ladang yang telah mereka lewati.

Seorang anak mengangkat tangan sambil berdiri di sebuah kumpulan pohon jangkung yang berdaun seperti telapak tangan terbuka. “Pak guru, kalau ini pohon apa?” ucapnya kemudian.

Sambil berjalan pelan, Pak Guru mendekati sang penanya. “Anak-anakku, ini pohon singkong,” jawab sang guru.

“Kenapa ia tidak berbuah, seperti pohon-pohon lain di ladang ini, Pak?” tanya yang lain.

“Kamu salah, anak-anakku. Tidak semua buah bisa ditampilkan ke permukaan. Karena sesuatu hal, ia disembunyikan,” jawab sang guru.

“Disembunyikan?” tanya murid yang lain.

“Ya. Karena pohon singkong bertubuh kurus dan jangkung, ia menyembunyikan buahnya di akar. Perhatikanlah!” jelas sang guru sambil bersusah payah mengangkat pohon singkong hingga akarnya tercerabut.

Tampaklah sebuah pemandangan yang mungkin baru untuk anak-anak. Mereka mendapati sebuah pohon dengan akar yang begitu besar. Itulah yang disebut guru mereka sebagai buah yang disembunyikan.
**

Dinamika hidup dengan berbagai variasinya, hampir selalu berujung pada satu tujuan: mendapatkan hasil atau buah. Berbagai variasi buah pun menjadi target mereka. Ada yang berkerja untuk mendapatkan gaji, keuntungan usaha bagi para pebisnis, kehidupan berumah tangga yang kemudian menghasilkan berbagai aset keluarga, kehidupan berorganisasi yang membuahkan berbagai keuntungan, dan lain-lain.

Sayangnya, kepicikan daya pandang sebagian kita kadang menutup adanya keberadaan buah-buah lain yang tidak selalu tampak di permukaan. Dan boleh jadi, buah yang tidak tampak itu, sebenarnya jauh lebih bernilai dari apa yang bisa dilihat, dipegang, dan kemudian habis dimakan. (muhammadnuh@eramuslim.com)
READ MORE - Buah

Ketahuilah Zina Mengakibatkan Kehancuran

0 komentar
Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam bersabda, “Kebanyakan yang menyebabkan seseorang masuk neraka adalah mulut dan farj (kemaluan)”. Dan, sabda Rasul lainnya, “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali tiga orang, yaitu laki-laki yang berzina, orang yang membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya (murtad) yang keluar dari jamaah muslim”.

Betapa zina yang hina itu, membolehkan pelakunya untuk dibunuh. Karena perbuatan yang dilakukannya itu, termasuk perbuatan dosa besar, yang sangat merusak. Dan, hadist diatas secara berurutan, zina, kekufuran, dan pembunuhan.

Seperti di dalam surah al-Furqan dan hadist Ibnu Mas’ud, yaitu hadist yang menegaskan bahwa yang paling sering terjadi adalah zina.

Zina perbuatan yang sering terjadi, kemudian pembunuhan, dan murtad. Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, menyebutkan dari segi tingkat mafsadah-nya dan efek negatifnya, disebutkan zina merupakan perbuatan yang memiliki tingkat kerusakan paling besar. Perzinahan bertentangan dengan kemaslahatan, yaitu merusak tatanan kehidupan masyarakat.

Apabila seorang perempuan berbuat zina, maka ia telah menciptakan aib kepada keluarga, suami, dan familinya. Setelah itu kehormatannya pun jatuh dihadapan manusia. Perempuan yang telah berzina menjadi hina dihadapan manusia maupun Allah Rabbul Alamin. Jika perempuan itu hamil dari hasil perzinaan, dan membunuh anaknya, maka ia melakukan dua tindakan kriminal sekaligus. Dan, jika pada saat yang sama ia hamil dari hasil hubungannya dengan suaminya yang sah, maka ia memasukkan orang asing dalam keluarganya. Ini mafsadah dari perempuan.

Sementara mafsadah yang ditimbulkan laki-laki yang berzina adalah juga terjadi percampuran nasab, yaitu ketidakjelasan dari mana janin itu, sehingga tidak ada kejelasan status bayi yang lahir. Orang laki-laki itu juga telah menjerumuskan perempuan kedalam mafsadah dan kehancuran. Jenis kriminal dan dosa besar ini menyebabkan kerusakan, kehancuran, dan mafsadah dunia dan agama.

Perzinaan menyebabkan kefakiran, memendekkan umur, muka menghitam dihadapan manusia, menimbulkan murka orang lain, menghancurkan hati, menimbulkan sakit hati, mematikan hati, menyebabkan kesedihan, dan kekhawatiran. Seandainya seseoang isterinya berzina atau keluarga membunuhnya, itu lebih ringan dibandingkan dengan mendengar isterinya berzina.

Sa’ad bin Ubadah berkata, “Seandainya aku melihat seorang laki-laki berzina dengan isteriku, maka akan aku penggal leher laki-laki itu dengan pedang”, ucapnya.

Perkataan Sa’ad itu sampai ke telinga Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, dan beliau berkata : “Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad?” Sesungguhnya aku lebih cemburu daripada Sa’ad dan Allah lebih cemburu daripada aku. Oleh karena itu, Allah mengharamkan kekejian-kekejian yang tampak dan yang tersembunyi”. (HR. Muttafaq alaih).

Beliau juga bersabda :

“Sesungguhnya Allah cemburu (tersinggung) dan seorang mukmin harus cemburu. Ketersinggungan Allah adalah ketika hamba-Nya melakukan apa yang dilarang Allah”. (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadist yang lain, ketika beliau khotbah shalat gerhana matahari beliau bersabda :

“Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih tersinggung (ghirah) melebihi Allah ketika seorang hamba laki-laki dan perempuan berzina. Hai umat Muhammad seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui apa yang aku ketahui niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa”. Kemudian, Rasulullah mengangkat kedua tangannya dan berkata, “Ya Allah, apakah hal ini sudah aku sampaikan?”.

Ada rahasia yang penting dibalik penyebutan dosa besar zina pada saat shalat kusuf. Maraknya perzinaan adalah tanda-tanda hancurnya dunia dan hari kiamat, dan gerhana adalah satu satu bentuk tanda kiamat. Sebagaimana disebutkan dalam hadist Anas bin Malik berkata :

“Akan aku beritahu berita yang tidak akan diberitakan oleh seorangpun yang sesudahku. Saya mendengar Rasulullah Shallahu Alaihi Wa Sallam, bersabda, “Termasuk tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu dan menyebarnya kebodohan, maraknya minuman khamar, dan pernzinaan. Perempuan akan berjumlah banyak sebaliknya laki-laki sedikit. Sehingga laki-laki satu berbanding lima puluh perempuan”.

Sunnah Allah berlaku pada makhluk-Nya, di mana jika perzinaan merajalela, maka Allah murka kepada mereka. Jika kemurkaan Allah terus berlangsung, maka ia akan menurunkan hukuman-Nya ke bumi. Abdullah bin Mas’ud, berkata, “Tidaklah muncul perzinaan di sebuah negeri, kecuali Allah mengumumkan kehancurannya”. Wallahu’alam.
READ MORE - Ketahuilah Zina Mengakibatkan Kehancuran

Setan pun Hafal Alqur'an

1 komentar
MUKADDIMAH

Sejak beredar buku Kiyai Meruqyah Jin Berakting, penulis sering menerima pertanyaan dari masyarakat, baik melalui sms, telpon, maupun yang datang bertanya secara langsung. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang meminta penulis untuk meruqyah baik untuk dirinya maupun yang lainnya karena mereka meyakini bahwa ruqyah adalah doa dan doa adalah bagian dari ajaran Islam.

Kenyataan ini patut kita syukuri karena mereka meyakini bahwa Islam ajaran yang lengkap dan menyeluruh. Oleh karena itu, siapa pun dari kita jika diminta saudara seiman untuk mendoakan baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrowi maka sepatutnyalah memenuhi permohonan tersebut. Sungguh berdoa bukan perbuatan yang sulit dan tidak pula memerlukan waktu khusus dan kita meyakini bahwa sesungguhnya Allah senantiasa menanti siapa pun yang memohon kepada-Nya di mana pun mereka berada.

Yang patut diperhatikan adalah: apakah praktik meruqyah yang berlangsung di beberapa tempat dan yang sering kita saksikan di layar televisi itu semuanya sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw. atau ada yang menyimpang? Kendatipun yang dibaca para peruqyah itu adalah ayat-ayat Al Quran dan doa-doa dari Rasulullah saw. namun cara yang mereka lakukan masih dipertanyakan, apakah semuanya sesuai dengan cara
yang berlangsung pada zaman Rasulullah saw. dan sahabatnya?.

Dengan beredarnya buku “Kiyai Meruqyah Jin Berakting” penulis menerima banyak pertanyaan dari berbagai pihak, antara lain: dari praktisi ruqyah, aktifis da’wah, pribadi, atau tokoh masyarakat. Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut baru dijawab dengan lisan maka penulis diminta segera untuk memberi jawaban secara tertulis. Buku
ini mencoba untuk membahas beberapa pertanyaan yang paling sering muncul dan dirasa perlu untuk diprioritaskan pembahasannya.

Sekiranya saudara pembaca buku ini menemukan redaksi yang agak berbeda dari redaksi yang biasa ditemukan dalam buku-buku sebelumnya, maka diharap agar dapat dimaklumi, karena dengan simpatik, seorang teman berkata, “Akhi, pernyataan Akhi tentang ruqyah dan jin itu kurang tegas atau dengan kata lain kurang vulgar, sehingga orang yang kurang sependapat berusaha untuk memplesetkannya. Maka diharap pada jilid berikutnya agar menggunakan bahasa yang lebih tegas”. Hanya kepada Allah hamba memohon taufiq dan hidayah-Nya.

Semoga buku soal-jawab ini bermanfaat bagi masyarakat dan dapat mengurangi problem
mereka yang sering memberi peluang kepada setan untuk mengganggu keharmonisan hidup dan ketenangan beribadah mereka baik yang mengerti agama maupun yang tidak.

1. SETAN JUGA PANDAI MERUQYAH

Masalah:

Ada dua kasus yang perlu dibahas:

* Seorang gadis telah hafal Al Quran atau disebut hafizhah, sejakdikatakan bahwa di dalam dirinya terdapat jin, maka dia sekarangsering melamun. Sungguh kasihan, hafalannya pun sudah mulai banyak yang hilang.
* Ada seorang ibu yang dinyatakan perlu segera diruqyah karena dalam dirinya terdapat jin. Berita ini telah membuat suaminya terkejut, karena merasa kecewa punya isteri yang “mengandung” jin. Secara psikologis hubungan keluarga pun mulai terganggu. Akibat pengaruh berita yang senantiasa mewarnai pandangan suami terhadap isterinya, maka setiap kali suami menemukan perilaku isteri yang tidak sesuai dengan harapannya selalu dia hubungkan dengan jin. Pertnyaannya: Siapakah nama setan yang telah berhasil mengganggu alhafizhah dan menodai keharmonisan keluarga ini?

Pembahasan:

Memang, ketika disebut kata “setan” maka yang sering tersirat dibenak kita adalah sesuatu yang abstrak. Bahkan, sebagian orang mengatakan bahwa setan itu tidak ada selain sifat-sifat buruk yang ada pada manusia. Betulkah demikian? Marilah kita perhatikan firman Allah:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ
وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. (QS. 6:112)

Pelajaran dari ayat:

- Pada ayat ini sebutan manusia mendahului sebutan jin, pada ayat–ayat lain jin disebut sebelum manusia . Sungguh hal ini sangat menarik untuk kita tadabburi atau kita hayati, ada isyarat apakah di balik sebutan manusia mendahului sebutan jin. Memang setan dari manusia lebih susah untuk diketahui dan dihindari, karena boleh jadi dia tampil lebih ‘alim, tuturkatanya sangat menakjubkan, bahkan sering tampil sebagai penasihat.

Maka sangat mungkin bagi orang yang kurang wawasan keislaman mudah terjebak dan tergoda hingga terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Karena itu sebutan setan manusia disebut lebih dulu memberi isyarat betapa pentingnya bagi kita untuk lebih
waspada, namun pada kenyataannya, malah sebaliknya. Hal itu boleh jadi akibat kurang mengerti siapa sebenarnya setan dari golongan manusia itu.

Menghindar dari setan manusia tidak cukup hanya dengan berlindung menyatakan mohon perlindungan kepada Allah, tetapi juga sangat penting untuk mengenal dan mamahami langkah-langkah setan tersebut, yaitu dengan menambah wawasan keisliman dan memperdalam ilmu tentang Al Quran dan Sunnah serta kejian terhadap sirah nabawiyah. Lalu, kita kaji banding antara prilakunya dengan akhlak Rasulullah saw. dan para sahabat.

- Setan dari golongan manusia adalah musuh para nabi. Jika tingkat para nabi saja telah dimusuhi setan-setan manusia, apalagi tingkatan umatnya yang sering mengalami penurunan keimanan, kurang wawasan keislaman dan tidak mendapat jaminan keselamatan aqidah karena tidak mendapat bimbingan langsung melalui wahyu Ilahi.

- Kata يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain . Praktik membisik tidak berarti dengan suara yang didekatkan kepada telinga hingga tidak terdengar selain oleh yang dibisikinya, tetapi juga memberi makna lain seperti setan-setan manusia juga punya tim atau kelompok yang memiliki profesi yang sama dan antara satu dengan yang lainnya saling tukar pengalaman bahkan menjadi satu organisasi yang solid untuk melaksanakan kegiatannya, hingga sulit diterka bila kegiatan tersebut membawa kepada perusakan.

- Bagaimana tidak, sungguh kata-kata mereka sangat menarik dan manakjubkan. زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Keluar dari lisan mereka nasihat-nasihat yang indah bahkan diperkuat dengan ayat-ayat Allah dan
hadis Rasulullah saw. yang merupakan pegangan kaum muslimin di seluruh dunia. Mereka pun fasih membacakan ayatnya dan banyak hafalannya sehingga julukan ustadz atau kiyai tidak diragukan untuk ditujukan kepada mereka .

- فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan. Kita tidak hanya diperintah meninggalkan perkataan mereka, tetapi kita juga diperintah untuk meninggalkan mereka. Hal itu menunjukkan bahwa perkataan mereka sangat membahayakan. Sebenarnya, semua perkataan menyesatkan yang terlihat kotor pasti akan dijauhi orang yang sehat. Namun, jika perkataan itu dikemas dengan kata suci
maka orang sehat pun dapat menerimanya.

- وَمَا يَفْتَرُونَ dan apa yang mereka ada-adakan. Tentu jika yang mereka ada-adakan itu murni tanpa dikemas dengan tampilan yang menakjubkan atau tidak didukung dengan dalil yang meyakinkan maka orang lain pun akan menjauhinya meski tidak ada perintah Al Quran untuk menjauhinya. Turunnya perintah tersebut memberi isyarat adanya masyarakat yang kurang menyadari akan berbahayanya praktik penipuan yang dilakukan setan-setan manusia dan jin.

Berkaitan dengan sinyalemen di atas, Rasulullah saw. pun mengingatkan kepada seorang sahabat agar senantiasa waspada terhadap gangguan dan bahaya setan manusia dan jin. Sejajar dengan kandungan ayat di atas, Rasul pun menempatkan bahaya gangguan setan dari golongan manusia mendahului bahaya gangguan setan dari golognan jin. Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَجَلَسْتُ فَقَالَ يَا أَبَا
ذَرٍّ هَلْ صَلَّيْتَ قُلْتُ لَا قَالَ قُمْ فَصَلِّ قَالَ فَقُمْتُ
فَصَلَّيْتُ ثُمَّ جَلَسْتُ فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ تَعَوَّذْ بِاللَّهِ
مِنْ شَرِّ شَيَاطِينِ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ
اللَّهِ وَلِلْإِنْسِ شَيَاطِينُ قَالَ نَعَمْ (الحديث

Dari Abu Dzar berkata: aku mendatangi Rasulullah saw pada saat beliau berada di masjid. Aku duku (di dekatnya). Maka beliau bersabda: hai Abu Dzar, apakah kamu sudah melakukan shalat. Aku berkata: belum, beluau bersabda: berdirilah lalu shalatlah! Maka aku pun berdiri dan melakukua shalat. Kemudian aku duduk, maka beliau bersabda: hai Abu Dzar berlindunglah kepada Allah dari kejahatan setan manusia dan jin. Aku berkata: wahai Rasulullah apakah dari golongan manusia ada setan? Beliau bersabda: ya. …… (HR. Ahmad)

Pelajaran dari hadis:

- Abu Dzar seorang sahabat yang terbina pada madrasah Rasulullah saw. Namun demikian, dia pun masih diingatkan akan bahaya setan manusia dan jin.

- Di samping kedudukan Abu Dzar sebagai sahabat, juga dia baru menyelesaikan ibadah shalat. Artinya dia mendapat pelajaran yang sangat penting dari Rasul saw. dalam kondisi suci, karena dia baru menyelesaikan ibadah shalat di masjid yang jauh dari perbuatan kotor dan keji.

- Pelajaran tersebut ternyata perintah untuk berlindung kepada Allah dari kejahatan setan. Hal ini memberi isyarat bahwa orang yang suka beribadah setingkat sahabat pun tidak luput dari sasaran setan.

- Yang menggoda orang yang baru selesai shalat adalah setan dari golongan manusia dan jin. Keduanya harus diwaspadai, namun kewaspadaan terhadap godaan manusia harus diprioritaskan, karena tipu daya setan jenis manusia lebih susah untuk diketahui akibat penampilannya yang tidak asing dan menggunakan argumentasi yang meyakinkan.

- Karena susahnya untuk diketahui, maka Abu Dzar pun mempertanyakan, apakah dari golongan manusia ada setan. Dengan dua teks di atas kita menemukan gambaran siapakah setan yang telah berhasil menggoda seorang hafizhah itu. Untuk lebih jelas lagi
perlu kita kaji kasus lain yang terjadi akibat yang sama, yaitu:

Seorang wanita bertemu dengan seorang praktisi ruqyah yang mengatakan bahwa dalam diri wanita tersebut terdapat jin yang harus segera dikeluarkan dengan diruqyah. Dengan berita tersebut maka suaminya terkejut yang akhirnya dia sering menghubungkan berbagai prilaku isteri dengan jin, terutama jika dari prilaku wanita tersebut ada yang tidak disenanginya. Sementara wanita tersebut tidak merasa ada
sesuatu yang aneh pada dirinya. Dari hari ke hari maka keharmonisan keluarga pun mulai terusik dan permasalahan terus membesar. Ketika itulah setan dari golongan jin terus membisik ke dalam dada kedua pihak. Begitulah, salah satu program setan adalah mengganggu keharmonisan hubungan antara suami dengan isterinya. Allah berfirman:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ

Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. (QS. 2:102).

Bagian ayat di atas memberi penjelasan adanya sihir sejak zaman Nabi Sulaiman dan sihir tersebut menggunakan istilah yang dinisbatkan kepada Nabi Sulaiman walaupun jelas berlawanan dengan ajaran yang dibawanya. Maka tidaklah aneh jika sekarang ditemukan pembawa ajaran jahiliyah yang memisahkan seseorang dengan isterinya atau menjauhkan seorang hafizah dengan Al Quran, namun ajaran tersebut menggunakan ayat Al Quran dan sunnah Nabi saw. Itulah kecerdasan setan dari golongan manusia yang mesti diwaspadai sebagaimana Rasul saw. sabdakan kepada Abu Dzar.

Setan dari golongan manusia ternyata lebih berbahaya daripada setan dari golongan jin. Setan dari golongan jin selalu membisik ke dalam dada manusia dengan menggunakan cara yang gaib. Sedangkan setan dari golongan manusia dapat menggoda manusia dengan berkomunikasi langsung menyampaikan kalimat yang menarik dengan tampilan mempesona, mungkin menamakan diri sebagai orang pintar, dukun, para normal bahkan
menamakan diri sebagai seorang tokoh agama yang menyampaikan doa-doa yang diambil dari Al Quran dan hadis Nabi.

Oleh karena, itu sangat penting bagi kita untuk lebih waspada menghadapi bahayanya dan yang lebih berbahaya lagi jika, tanpa disadari, kita sendiri terlibat di dalamnya atau termasuk golongannya.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نَزِلَّ أَوْ نَضِلَّ أَوْ
نَظْلِمَ أَوْ نُظْلَمَ أَوْ نَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيْنَا

Ya Allah kami berlindung padaMu dari tergelincir, tersesat, berbuat aniaya, dizalimi, bodoh dan dibodohi.

Kesimpulan:

* Seorang yang telah hafal Al Quran tidak berarti otomatis paham Al Quran. Demikian pula orang yang banyak hafal hadis belum tentu dia memahami dan mengamalkan hadis yang dihafalnya. Orang yang sudah hafal dan mengerti pun tetap harus waspada terhadap rayuan dan bujukan setan.
* Setan tidak selalu tersembunyi dan susah dilihat tetapi mungkin saja dia dapat dilihat dengan jelas namun kita tidak mengenalnya karena tampilannya sangat menarik, tutur katanya sangat menakjubkan bahkan menggunakan argumentasi yang meyakinkan. Dialah setan dari golongan manusia.
* Kita akan dapat mengenalnya dengan jelas setelah memperhatikan orang yang mengikutinya, yaitu membuat orang tersebut sibuk dengan hal yang tidak berarti; mengurangi amal shaleh yang biasa dilakukan sebelumnya; terganggu hubungan rumah tangganya; dan lain-lain.
* Adalah termasuk setan peruqyah yang menuduh ada jin pada seorang hafizhah dan seorang ibu rumah tangga, karena dengan tuduhan tersebut dia telah berhasil membuat seorang hafizhah dan seorang ibu menjauh dari kebiasaan baik yang biasa mereka lakukan sebelumnya. (bersambung)

والله أعلم
READ MORE - Setan pun Hafal Alqur'an

Iblis pun Berjuang Mencapai Keinginannya

0 komentar
1. Menyesatkan manusia.

Manusia terbagi dua golongan: ada yang sesat, yaitu teman-teman setan dan ada yang berada dalam jalan yang lurus, yaitu yang menjadi sasaran kerja setan. Orang-orang yang berada dalam kesesatan tidak akan digoda setan melainkan akan dia jadikan sebagai teman setia yang dia pertahankan untuk tetap dalam kesesatan.

Adapun yang digoda adalah golongan orang yang sudah berada dalam jalan yang lurus, yaitu dengan menggiring mereka agar menjadikan ibadah untuk kepentingan dunia dan menilai ibadah dengan nilai duniawi. Dengan cara ini maka mereka akan menilai ketakwaan dirinya dengan ukuran kehidupan lahir. Padahal tiada yang mengetahui ketakwaan seseorang selain Allah Swt.

Orang yang didatangi setan tidak terbatas pada orang yang lemah imannya saja tetapi orang yang sekaliber sahabat Rasul saw. pun selalu dia datangi. Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk memandang diri jauh atau aman dari godaan dan bisikan setan apalagi sampai memandang diri sudah mampu menundukkan setan. Hanya saja cara yang digunakan setan untuk menggoda sangat berbeda antara menggoda orang yang imannya lemah dengan orang yang imannya kuat.

Demikian pula cara menggoda orang yang tidak mengerti tentang Islam berbeda dengan cara menggoda orang yang mengerti. Jika ada orang yang mengaku bahwa dirinya telah aman dari setan, boleh jadi pengakuan tersebut muncul karena bisikan setan juga. Jika orang yang mengerti tentang Islam telah dapat digoda maka godaan tersebut akan berakibat kepada orang-orang yang bodoh.

Yang sangat dikhawatirkan adalah jika ada orang yang mengerti tentang agama dijadikan pusat kesesatan tanpa dia sadari. Umpamanya, seseorang melakukan hal yang terpuji menurut pandangan manusia lalu dengan perbuatan tersebut dia dapat melahirkan hal-hal yang luar biasa dan di luar jangkauan akal manusia, seperti mengobati orang sakit dengan cara yang sangat sederhana namun banyak orang yang sakit parah mendapat kesembuhan.

Dengan terlihatnya sebagai orang luar biasa, maka muncullah keyakinan dari masyarakat yang memandangnya sebagai orang istimewa dan tidak lama dia pun ditempatkan pada kedudukan berhala tanpa dia sadari. Umat yang mengaguminya berkata: kami minta pertolongan kepadanya karena dia adalah orang yang sholeh agar dia mendoakan kami sebagaimana yang dilakukan para sahabat dahulu dan kami yakin bahwa yang menyembuhkan kami hanyalah Allah.

Kalimat ini adalah menandakan adanya iman yang terdapat pada qalbu mereka. Semoga Allah tetapkan keimanan pada qalbu mereka hingga ajal menjemput mereka. Namun sebaliknya jika orang yang sholeh itu mendengar ucapan tersebut lalu merasa bahagia serta bangga dengan sanjungan mereka maka ketika itu pula kesholehan dan ketakwaannya berkurang. Jika sudah berkurang maka ketakwaannya sangat mudah untuk menghilang.

Jika seseorang sudah kehilangan ketakwaan maka dengan leluasa setan memperalatnya untuk menyesatkan umat dengan berbagai cara antara lain dengan menjadikannya sebagai orang yang sangat luar biasa seperti dapat berhubungan dengan makhluk gaib atau tampil sebagai orang yang dapat mengusir jin.

Padahal, terusir dan tidaknya tidak dapat diketahui oleh manusiakarena jin adalah gaib. Kemudian tiba saatnya bagi setan untuk menindaklanjuti dengan memperbanyak orang keserupan, maka keluarga dari orang yang keserupan segera mendatangi “orang pintar” tadi dengan haparan agar orang yang kesurupan segera sembuh.

Dengan rekayasa setan, akhirnya orang tersebut dikenal menjadi seorang ahli menyembuhkan kesurupan yang dari hari ke hari semakin disibukkan dengan mengobati kesurupan dan dia meyakini bahwa apa yang dia lakukan adalah amal shaleh yang sangat bermanfaat bagi kepentingan umat .

Dengan keyakinan ini tidak sedikit para aktifis da’wah disibukan dengan ruqyah yang akhirnya waktu untuk menyebarkan ilmu sedikit demi sedikit berkurang, bahkan ada yang sampai meninggalkan ta’lim. Keluhan dari para santri pun tidak lagi mendapat perhatian serius.

2. Membangkitkan angan-angan kosong

Semua orang memiliki cita-cita ingin hidup bahagia dan selamat dari bahaya. Untuk mencapai yang dicita-citakan ada yang bekerja dengan memperhatikan aturan yang benar dan dapat mengantarkan dirinya mencapai sasaran dan ada pula yang bekerja dengan melanggar aturan dengan anggapan bahwa dia dapat mengambil jalan pintas untuk mencapai yang diharapkan.

Ketika dia ingin mendapat keuntungan maka yang terlihat untung yang besar tanpa pengorbanan. Jika sakit pada salah satu anggota badan maka yang terbayang bagaimana caranya agar segera sehat meski harus mengorbankan aqidah. Artinya mengutamakan sehat sementara dan rela mengorbankan sehat yang abadi, yaitu sehat aqidah yang menjadi landasan utama untuk mendapat keuntungan abadi dan di dalam hati terdapat bayangan bahwa umurnya masih panjang. Sekiranya dia berada dalam kesesatan maka dia bercita-cita ingin memperbaikinya setelah tercapai apa yang diinginkan.

3. Menyuruh memotong telinga binatang.

Setiap bangsa mendapat warisan budaya dari para pendahulunya, salah satunya adalah budaya memotong telinga binatang. Budaya ini merupakan keyakinan terhadap hal-hal yang sebenarnya tidak ada. Namun, karena mereka meyakininya maka sangat berpengaruh bagi kehidupan mereka, yaitu keyakinan adanya barokah pada binatang tertentu. Hal itu tidak diragukan merupakan ajaran setan yang berkaitan dengan binatang.

Sehingga mereka meyakini adanya keistimewaan pada binatang-binatang tertentu. Maka binatang tersebut diberi tanda khusus untuk diyakini bahwa binatang tersebut bukan binatang biasa. Cara ini sangat berkaitan dengan budaya yang telah menjadi kayakinan sebagian masyarakat.

4. Menyuruh untuk mengubah ciptaan Allah.

Setan berusaha mendorong hawa nafsu manusia dan mendorong mereka untuk memenuhi tuntutannya dengan cara yang menyimpang dari ajaran Allah. Intinya adalah membuat manusia kehilangan rasa puas terhadap apa yang telah Allah berikan kepada mereka hingga mereka berusaha untuk melakukan perubahan sesuai keinginan kendatipun dengan jalan yang dimurkai-Nya.

Jika Iblis berhasil mencapai program-program di atas maka dia akan mendapat tambahan teman dari golongan manusia untuk sama-sama menggoda manusia lainnya agar jumlah orang yang sesat terus bertambah hingga semua orang celaka di akhirat nanti. Semoga Allah melindungi kita semua dari godaan setan.

Dari kedua ayat di atas dapat kita ambil pelajaran yang sangat penting bahwa orang yang kemasukan setan tidak selalu terlihat oleh manusia dan tidak pula selalu diketahui oleh manusia. Sementara pengobatan yang dilakukan dengan ruqyah yang dikenal masyarakat sekarang hanya terbatas kepada orang-orang tertentu, yaitu orang yang dipandang kesurupan atau sejenisnya.

Dengan tersebarnya pemahaman tentang ruqyah di tengah masyarakat dan praktik meruqyah sering ditayangkan pada bebarapa chanel televisi dengan cara yang tidak sama, maka perlu kita kaji siapa sebenarnya yang terlebih dahulu kemasukan setan? Cara meruqyah yang manakah yang seuai dengan contoh rasulullah saw? Mengapa setelah banyaknya praktik meruqyah sering terjadi kesurupan baik perorangan atau kesurupan masal?

Jika terdengar seorang ahli ruqyah berkata di hadapan seorang pasien: “Orang ini sedang kemasukan jin”. Darimanakah dia dapat mengetahui bahwa di dalam diri orang tersebut terdapat jin? Jika dia menunjuk di mana jin itu berada, maka patut kita pertanyakan: siapakah yang memberi tahu kepadanya? Jika dia mendapat berita dari yang gaib, siapakah yang lebi dulu kemasukan jin, bukankah dia yang lebih dulu kemasukan makhluk gaib, yaitu jin?

Kalau diyakini bahwa yang memberi tahu adalah jin muslim, atas dasar apakah jin muslim berinteraksi dengan manusia, padahal sebagaimana manusia muslim senantiasa menghadapai kewajbaan yang demikian banyak maka kewajaban dia juga masih banyak yang belum dilaksanakan? Sungguh tidak patut baginya untuk menyibukan diri dengan melakukan hal yang tidak diperintahkan oleh Allah kepadanya.

Jika ditemukan seorang ahli ruqyah mengobati pasien disertai dengan menggunakan tenaga atau gerakan tertentu maka sesungguhnya tenaga dan gerakan tersebut tidak ada kaitannya dengan pengobatan atau ruqyah, sebab ruqyah adalah satu komunikasi seorang hamba dengan Allah.

Ini dari satu segi dan dari segi lain jika ruqyah tersebut berkaitan dengan pengusiran jin dari seseorang maka sesungguhnya jin tidak akan dapat diusir dengan tenaga manusia. Karena jin memiliki dimensi yang berbeda dari manusia. Ketika seseorang mengusir jin dengan menggunakan tenaga pada gerakan tangan, umpamanya, maka sesungguhnya jin dapat memasuki tangan yang digerakan itu. Bahkan dia pun dapat menggerakan tangan tersebut dengan gerakan yang di luar kebiasaan.

Kesimpulan:

* Orang yang kemasukan jin atau setan tidak terbatas pada orang yang dinyatakan kesurupan, tetapi orang yang tidak kesurupan pun banyak sekali yang kemasukan setan.
* Semua orang yang sedang berbuat maksiat adalah orang yang sedang kemasukan setan atau terbawa oleh setan.
* Orang yang diduga kesurupan belum tentu kemasukan setan melainkan boleh jadi dia sedang terkena gangguan kesehatan biasa yang perlu dibawa kepada ahli medis.
* Orang yang menuduh kemasukan setan kepada orang lain, patut dipertanyakan: siapakah sebenarnya yang kemasukan setan itu, mungkinkah dia sendiri yang lebih dahulu kemasukan setan? Bisa saja setan yang mendorong dia untuk berkata tentang yang gaib padahal tidak ada yang mengetahui yang gaib selain Allah dan para rasul sesuai dengan berita melalui wahyu Allah.
* Orang yang mengobati kesurupan dengan ruqyah disertai dengan gerakan-gerakan tertentu, tidak mustahil gerakan tersebut termasuk bantuan setan yang merupakan sandiwara untuk menggiring manusia menuju kesesatan.
* Dengan demikian maka sangatlah penting untuk lebih waspada dalam menangani masalah yang berkaitan dengan keyakinan. Semua orang memiliki potensi yakin. Potensi tersebut ada yang berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu meyakini yang ada tetapi tidak terlihat yang disebut dengan ghaib. Ada pula yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu meyakini sesuatu yang sebenarnya tidak ada yang disebut ‘adam.

والله أعلم
READ MORE - Iblis pun Berjuang Mencapai Keinginannya

Alam Semesta Diliputi Kegelapan

0 komentar
Apa kata ilmu pengetahuan modern tentang kegelapan alam semesta?

Ketika pesawat ruang angkasa pertama diluncurkan untuk pertama kalinya, lalu ia kembali dengan membawa temuan-temuan, salah satu penemuan yang paling penting adalah bahwa seluruh alam semesta ini benar-benar tenggelam dalam kegelapan. Foto-foto bumi dari bulan menunjukkan bahwa bumi tergantung dalam kegelapan. Bahkan gambar matahari menunjukkan bahwa ia tergantung di dalam kegelapan alam semesta.
Jadi bagaimana cahaya dapat diproduksi di bumi hari ini, dan apakah ada referensi tentang hal ini di dalam Alquran? Bumi ditelan oleh kegelapan alam semesta, hanya lapisan tipis cahaya dapat dilihat.

Hal ini telah menjadi pengetahuan ilmiah bahwa cahaya berjalan dari matahari ke bumi tak terlihat, hanya berubah menjadi cahaya ketika mulai menembus atmosfer kita, di mana uap air dan benda-benda kecil padat menggantung di atmosfer. Inilah yang membantu mencerminkan sinar tak kasat mata sehingga menjadi cahaya. Matahari, bersama dengan bintang-bintang, terlihat seperti titik-titik biru ketika kita berada di luar atmosfer, karena alam semesta benar-benar tertelan dengan kegelapan.
Jadi itu menjadi fakta bahwa lapisan tipis yang mengelilingi bumi berperang untuk menghasilkan cahaya.

Dr Alfandi, seorang Mesir yang ahli dalam bidang ini, mengatakan bahwa sinar matahari tidak dapat dilihat kecuali lewat udara dan partikel debu ketika menembus atmosfer. Hal ini menjelaskan mengapa sinar matahari tidak dapat dilihat di luar angkasa dimana tidak ada atmosfer, apalagi seluruh alam semesta benar-benar gelap, bahkan pusat matahari gelap meskipun suhu tinggi. Sinar perjalanan dari pusat matahari tak terlihat dan hanya dapat dibedakan menjadi cahaya di lapisan luar matahari kemudian perjalanan ke bumi tak terlihat dan hanya dapat dilihat ketika menembus atmosfer. Al-Qur’an pada 1400 tahun sebelum sains telah mengisyaratkan fakta-fakta ini:

Kompatibilitas antara Sains dan Quran

“Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka salah satu dari (pintu-pintu) langit, lalu mereka terus menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang kena sihir.’” (QS Al Hijr [15]: 14-15)

Kata-kata yang ditebalkan merujuk kepada kegelapan di alam semesta. Astronot pertama yang melakukan perjalanan ke luar angkasa, saat menjelaskan kegelapan alam semesta, menggunakan kata-kata yang sama suci Al-Quran: Seakan mataku tertutup atau aku berada di bawah mantra sihir.

Fakta yang sama ditekankan dalam banyak ayat lain dengan beberapa tambahan ilmiah. Tuhan berfirman dalam Alquran yang artinya:

“Apakah kamu yang lebih sulit penciptaannya ataukah langit? Allah telah membangunnya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita dan menjadikan siangnya terang benderang.” (QS An-Naziat [79]: 27-29)

Setelah cembaca ayat di atas, Anda akan melihat empat pernyataan ilmiah yang sepenuhnya selas dengan penemuan-penemuan ilmiah:

Kalimat “Allah telah membangunnya” adalah bukti lain tentang alam semesta sebagai sebuah bangunan. “Dia meninggikan bangunannya” adalah bukti tentang perluasan alam semesta. Kalimat “dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita” merujuk pada penciptaan alam semesta dalam kegelapan yang berturut-turut. Kata ganti "nya" kembali kepada alam semesta, sehingga kita dapat mengatakan bahwa ayat ini mengacu pada kegelapan alam semesta. Lapisan siang mengubah cahaya matahari yang tak terlihat menjadi cahaya yang terlihat.

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya, dan langit serta pembinaannya,” (QS As-Syams [91]: 1-5)

Ayat luar biasa ini mengungkapkan satu fakta yang menakjubkan yang baru dicapai pada beberapa dekade terakhir. Menurut ayat ini bukan matahari yang membuat hari bercahaya indah. Lalu apa? Ayat ini mengatakan adalah hari (atmosfer) yang membuat cahaya matahari terlihat atau cahaya. Hal ini secara ilmiah diketahui bahwa " lapisan hari" adalah yang membuat matahari terlihat dan itu juga. Jadi Alquran sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Jadi, menurut Dr Nohammed Gamal Al-Fandy, lapisan hari itu sangat sangat tipis (200 km) dan ia memisahkan kegelapan alam semesta dari kita.

Al-Qur’an menyesuaikan ukuran lapisan hari dengan ukuran alam semesta.
“Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.” (QS Yasin [36]: 37)

Ayat ini menekankan pernyataan ilmiah yang telah dibahas sebelumnya, bahwa kegelapan merupakan alemen yang dominan. Ayat tersebut menyamakan kegelapan dengan menyembelih hewan dan hari terang dengan kulit hewan disembelih.

Cahaya matahari, karena disamakan dengan kulit binatang yang disembelih, begitu tipis dibandingkan dengan kegelapan alam semesta yang disamakan dengan tubuh besar binatang yang dibandingkan. Jadi, Anda dapat membayangkan kegelapan alam semesta yang di bawahnya adalah lapisan cahaya.
READ MORE - Alam Semesta Diliputi Kegelapan
 

RIDHO ILLAHI Copyright © 2008